Kepolisian Belgia telah mengidentifikasi pelaku serangan teror dengan parang yang melukai dua polisi negara itu, yakni imigran asal Aljazair.

Pejabat Belgia, Minggu (7/8/2016) malam atau Senin (8/8/2016) dinihari WIB mengatakan, pria Aljazair berusia 33 tahun itu memiliki catatan kriminal tetapi tidak dikendal dalam jaringan teror.

Juru bicara polisi Charleroi, David Quinaux,  kepada Associated Press mengatakan, penyerang menggunakan parang yang disimpan dalam tas olahraga.

Parang itu ditariknya keluar tas saat ia tiba di sebuah pos pemeriksaan keamanan di luar markas polisi Cahrleroi, Perancis, Sabtu (6/8/2016) sore.

Akibat percobaan pembunuhan itu, seorang polisi terluka parah karena terkena sabetan parang di wajahnya. Seorang polisi lagi menderita luka ringan.

Pelaku ketika akan menyerang telah meneriakkan nama Allah. Dia pun ditembak mati oleh polisi lainnya.

Berbeda dengan keterangan polisi, kelompok teror yang menamakan dirinya Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.

Dalam pernyataan ISIS, seperti dirilis oleh kantor berita Amaq yang dekat dengan kelompok itu, Minggu (7/8/2016), disebutkan pelaku serangan teror parang di Charleroi adalah “tentara” ISIS.

Pernyataan yang sama terhadap serangkaian serangan teror oleh perseorangan di Perancis dan Jerman sebelumnya.

Menusul serangan di Charleroi, jaksa penuntut umum tidak merilis nama lengkap penyerang. Jaksa hanya menyebut inisialnya adalah KB, seperti dilaporkan BBC News.

Serangan itu, yang oleh Menteri Dalam Negeri Belgian Jan Jambon disebut sebagai "tindakan barbarisme", terjadi di Charleroi, sebuah kota di selatan Brussels, ibu kota Belgia.

Perdana Menteri Belgia Charles Michel, Minggu (7/8/2016), mengumumkan, negaranya resmi memulai penyelidikan atas serangan "teroris" yang melukai dua polisi itu.

Akibat serangan parang oleh terduga teroris di Charleroi, Michel mempersingkat liburannya di Perancis selatan dengan segera kembali ke Belgia.