MAKKAH, SAHABAT.CO.ID - Innalillahi wa innailaihi rojiun. Jamaah haji tertua asal Kabupaten Sleman, bernama Djumirah Karto Temon (81) meninggal dunia setelah melaksanakan shalat tahajjud, Minggu kemarin (11/9). Jenazah dimakamkan di pemakaman Saroya di kota Makkah pada hari itu pula. Djumirah Karto Temon (81) tercatat sebagai jamaah haji tertua tahun 2016.

Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umroh Kementerian Agama Sleman, Silvia Roseti, mengatakan bahwa kabar duka mengenai alamarhum Djumirah pertama kali dilaporkan kepala kloter haji.

Dalam laporannya, jamaah haji yang masuk dalam kloter 24 SOC ini, terlihat aktivitasnya ketika shalat tahajud. Selepas itu, ibu Djumirah istirahat sampai ada yang membangunkan untuk shalat Shubuh, namun alamarhum tidak bereaksi apapun sampai akhirnya dinyatakan meninggal dunia oleh dokter jaga disana.

"Saat pemeriksaan kesehatan, baik itu pemeriksaan awal maupun pemeriksaan kesehatan di Embarkasi, alamarhum tercatat sehat. Jadi wafatnya beliau sudah takdir dan kuasa Nya," tutur Silvia dalam keterangan Selasa malam (13/9).

Lebih lanjut, petugas medis yang mengecek kondisi perempuan asal Pogung Selatan, Kecamatan Mlati itu, tidak menemukan adanya gelaja penyakit serangan jantung atau penyakit lain. Bahkan sebelum berangkat ke tanah suci, alamarhum tampak ceria, lincah dan sehat.  Maka kematian beliau diduga karena faktor usia.

Menurut Kasi Haji yang terlihat energik dan murah senyum ini,  Kemenag Sleman sudah menyampaikan kabar duka pada keluarga almarhum. Selain itu, Kemenag Sleman juga akan memfasilitasi dan membantu ahli waris untuk mendapatkan santunan kematian atau asuransi sebesar Rp 18 juta.

"Saat ini kami masih menunggu sertifikat kematian dari Arab. Lalu nanti ahli waris yang mengurusnya sendiri. Kami hanya membantu," katanya.

Sementara, Nur Batin Kuncoro (40)  putra bungsu almarhum Djumirah, mengaku bahagia mendengar informasi dari pihak Kemenag Sleman, dengan wafatnya ibundanya di Tanah Suci. Apalagi cara meninggal beliau usai melaksanakan shalat dan masih memakai mukena.

Semasa hidupnya Djumirah adalah sosok yang energik, pekerja keras, dan tak pernah mengeluh. Usai ditinggal suaminya Gito Dimulyo pada tahu 1994, Djumirah menghidupi keluarganya dengan bertani dan berdagang. Almarhum meninggalkan, 6 anak, 14 cucu dan 13 cicit.   

Dengan berkurangnya jamaah haji Djumirah, sekarang jamaah haji asal Sleman yang masih berada di Arab Saudi berjumlah 990 orang. Mereka akan kembali ke tanah air pada 27 sampai 29 September mendatang. (*)