Oleh: Syukron Dosi

"Jika unsur Pancasila pada alim ulama teguh dalam batin, negara kita akan jadi negara terbaik di dunia."  Amanat Bung Karno pada Harlah NU 1966.

“Seandainya Pancasila dirusak, NU harus bertanggung jawab! Umat Islam wajib membela Pancasila. Ini sudah mujma' alaih, konsensus ulama!.” KHR. As'ad Syamsul Arifin.

Apel Besar Hari Lahir Ke-93 Nahdlatul Ulama (NU) yang diselenggarakan PWNU Jatim di Candrawilwatikta, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (30/4/2016) lalu, menjadi momen bersejarah. Dalam apel tersebut, NU mengusulkan secara resmi kepada Presiden Joko Widodo untuk menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila.

NU sudah melakukan kajian akademik dan hasilnya menentukan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Hal itu sesuai dengan kesaksian dan pernyataan Ketua PBNU, Almarhum KH Masykur bahwa kelahiran Pancasila dimulai dari pidato Bung Karno.

Ketua PWNU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah mengatakan, saat ini hanya ada Hari Kesaktian Pancasila, sedangan hari lahirnya Pancasila belum ada. Menurutnya, usaha NU membuat kajian dan naskah akademik sangat tepat.

"Yayasan dan pesantren saja punya tanggal lahir, lah kok bisa Pancasila, puluhan tahun menjadi ideologi dan dasar negara kok tidak punya harlah. Inikan sebuah keniscayaan," terang Kiai Mutawakkil.

“Pancasila terbukti mampu menjadi perekat bagi masyarakat dan membawa ketenteraman di tengah warga Indonesia yang berbeda suku, agama dan kepentingan," tutur ketua PWNU Jatim.

“NU berpendapat bahwa Pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 adalah fakta sejarah yang tak dapat disangkal, dan Soekarno adalah penggali Pancasila berdasarkan saran para ulama dan kiai pesantren," jelas Komandan Apel Besar Harlah waktu itu, H Saifullah Yusuf.

Melalui Apel Besar Harlah NU 2016 yang diselenggarkan PWNU Jatim tersebut, kemudian PBNU dan beberapa ormas lain meminta pemerintah menetapkan tanggal 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila.

NU sebagai Organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia ini menganggap Pancasila yang sudah ditetapkan sebagai dasar negara Indonesia belum memiliki hari lahir.

Nahdlatul Ulama mendukung Pemerintah untuk menetapkan tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Bukan untuk sekadar memonumenkan Pancasila, tapi sebuah upaya untuk mengekalkan ingatan sejarah masa lalu dan merawatnya sebagai modal masa depan.

Akhirnya, Presiden Joko Widodo menetapkan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2016 sebagai hari libur nasional. Penetapan hari lahir Pancasila itu dituangkan dalam Keppres No. 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila yang ditandatangani 1 Juni 2016. Tahun ini merupakan tanggal merah pertama peringatan Hari Lahir Pancasila.

Kini, Berbagai ideologi besar di dunia silakan saja bertarung. Berebut pengaruh dan kekuasaan hingga saling berperang.

Dari bumi Nusantara, kami berteriak lantang, Pancasila adalah ideologi bangsa kami. Saripati dari way of thinking dan Way of Life yang digali oleh para perintis dan pendiri bangsa.

Peringatan Harlah Pancasila 1 Juni menjadi peneguhan atas eksistensi Pancasila Sakti dan NKRI Harga Mati. Menjawab dengan tegas bahwa tidak ada satupun yang boleh mengganggu Pancasila dan tidak membiarkan siapapun yang mencoba-coba mengubahnya dengan yang lain.

Pancasila harus kita teguhkan kembali. Bangsa kita ini sedang mengalami ujian harmoni kehidupan bermasyarakat, beragama dan bernegara, baik di dunia internasional maupun nasional juga mengalami ujian mengenai Bhinneka Tunggal Ika dalam menentukan keberagaman, persatuan, dan lain-lain.

Peringatan Pancasilan tahun ini yang bersamaan dengan bulan Ramadhan adalah momentum yang pas sekali,  Untuk menghadirkan kembali batin keindonesiaan kita, Khittah Pancasila yang menyatukan semua anak negeri.

Selamat Hari Pancasila.

Saya Indonesia

Saya Nahdlatul Ulama

Saya Pancasila.

 

Surabaya, 31 Mei 2017