Oleh: Ahmad Faiz Basori   

Tidak banyak yang tahu jika asal usul MTQ itu bermula dari lima orang pemuda yang hoby melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an di Masjid Ampel Surabaya. Kelima pemuda itu adalah:   

1. M. Basori Alwi Murtadlo (Lahir 15 April 1927) 
2. Abdullah Alwi Murtadlo (alm.) 
3. Abdullah Muhammad (alm.) 
4. Mujri Dahlan (alm.) 
5. Ali Muhammad (alm.)   

Mereka berlima secara rutin mengumandangkan tarhim menjelang subuh di Masjid Ampel di tahun 1950-an. Kemudian secara bergantian melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an hingga waktu shalat subuh datang.   

Mulanya mereka berlima hanya berlatih keahlian tilawah sekaligus memperkenalkan bacaan tartil yang baik dan benar. Namun kegiatan tersebut mengundang perhatian banyak orang. Jamaah Masjid Ampel lalu meminta ada kegiatan khusus bagi para penikmat lagu Qur’an.  

Akhirnya kelima pemuda itu membentuk acara rutin setiap malam Jumat yang bertajuk “Lailatul Qiro’ah” atau Malam Baca Al-Qur’an.   

Dalam kegiatan Lailatul Qiro’ah yang dimulai sesudah sholat Isya’ tersebut, KHM Basori Alwi Murtadlo (yang saat itu lebih dikenal dengan nama Ustadz Basori) dan kawan-kawan melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dan mengajarkan lagu-lagu tilawah kepada para jamaah Masjid Ampel. Kebetulan setiap malam Jumat, Masjid Ampel memang diziarahi oleh ratusan sampai ribuan jamaah. Sehingga acara Lailatul Qiro’ah tersebut dipadati oleh banyak peserta.   

Melihat peserta makin membludak, Ustadz Basori mengubah nama acara tersebut menjadi “Majlisul Qurro’ (Perkumpulan Para Pembaca Al-Qur’an)”. 

Di majelis itu kelima pemuda tadi mengajarkan lagu-lagu qiroah dan melahirkan qori-qori muda potensial. Para qori itu kemudian menularkan hasil belajarnya kepada qori lain. Sehingga semakin luaslah jaringan para qori ini.   

Kecenderungan ini memunculkan ide untuk menghimpun para qori (pembaca) dan huffadz (penghafal) Al-Qur’an dalam satu forum. Beberapa Qori dan huffadz terkemuka diundang, diantaranya Kyai Tubagus Mansur Makmun dan Kyai Roji’in dari Jakarta. 

Pada pertemuan pertama di sebuah langgar yang terletak di wilayah Kebalen, Malang, disepakati untuk mengubah nama Majlisul Qurro’ menjadi “JAM’IYYATUL QURRA’ WAL HUFFADZ” (Perkumpulan Para Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an) atau disingkat “JQH”.   

Perkumpulan JQH ini berkembang pesat, dan kemudian berafiliasi dengan NU Wilayah Jawa Timur. Kemuduan secara resmi pengurus JQH menghadap Ketua Umum PBNU di Jakarta (KH Idham Chalid). Keberadaan JQH ini disambut hangat. Dua tahun berjalan, JQH melebarkan sayapnya ke berbagai daerah.    

Pada suatu saat, di tahun 1954, guru ngaji Ustadz Basori yang bernama KH Abdul Karim (Gresik), seorang ulama ahli Qur’an yang kondang dengan kefasihan dan suara emasnya, diundang Menteri Agama (KH Wahid Hasyim) untuk membaca Al-Qur’an di Istana Negara.   

Memanfaatkan kesempatan tersebut, KH Abdul Karim melaporkan kepada Menteri Agama tentang perkumpulan tilawah (JQH) yang cukup besar di Jawa Timur yang berpusat di Masjid Ampel. Laporan tsb diterima dengan senang hati. Apalagi Indonesia sedang sibuk mempersiapkan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang akan digelar di Bandung.   

Tak lama berselang, Ustadz Basori Alwi diundang ke Jakarta untuk menemui KH Ahmad Syaikhu, ketua Organisasi Islam Asia Afrika (OIAA). Ternyata Ustadz Basori Alwi dilibatkan dalam kepanitiaan KAA tersebut. Saat KAA berlangsung, Ustadz Basori Alwi memperoleh kesempatan tampil sebagai salah satu qori mewakili Indonesia. 

Pada saat itulah Ustadz Basori Alwi mengutarakan ide penyelenggaraan semacam LOMBA MEMBACA AL-QUR’AN BERTARAF INTERNASIONAL. KH Ahmad Saikhu melihat ide tersebut orisinal dan sangat bagus.   

Ketika KIAA berlangsung, KH Amad Saikhu menyampaikan usulan Ustadz Basori Alwi tersebut kepada peserta konggres yang berasal dari berbagai negara. Sebagian besar peserta konggres yang memang berasal dari negara Muslim langsung menyatakan persetujuannya.   

Sebagai tindak lanjut, Ustadz Basori Alwi dan seorang sahabatnya Abdul Mujib Ridwan, ditugasi menyusun program pelaksanaannya. 

Akhirnya digelarlah MUSABAQAH TILAWATIL QUR’AN (MTQ) Tingkat Internasional yang pertama di Bandung pada tahun 1965, bersamaan dengan dilangsungkannya Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA).   

Belasan negara berpartisipasi dalam lomba membaca Al-Qur’an yang baru pertama kali diadakan itu. Disebut pertama kali, karena memang saat itu belum pernah ada lomba serupa, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dan sejak saat itulah Ustadz Basori Alwi, salah seorang dari lima sekawan yang bersuara emas dari Masjid Ampel, kesohor di panggung dunia.   

Menjelang peristiwa tersebut, Ustadz Basori Alwi ditugasi sebagai delegasi Indonesia dalam Misi Kebudayaan untuk berangkat ke Pakistan. Salah satu keberagamanan kebudayaan nasional yang diperkenalkan adalah seni tilawah.   

Setelah hajatan MTQ Internasional dilaksanakan, Ustadz Basori Alwi dipanggil lagi ke Jakarta, kali ini bersama dua orang rekan qori, yaitu Ustadz Abdul Aziz Muslim dan Ustadz Fuad Zen. 

Tiga serangkai ini ditugaskan bermuhibah ke sebelas negara, yaitu Arab Saudi, India, Pakistan, Irak, Iran, Syiria, Lebanon, Mesir, Tunisia, Aljazair, dan Libya. Tugas tersebut dinamakan Misi Al-Qur’an. Di negara-negara tujuan, ketiga qori itu secara bergantian melantunkan ayat suci Al-Qur’an. 

Selama empat bulan, tiga serangkai berkeliling dunia. Mereka menghadiri acara terkait Misi Al-Qur’an di kedutaan, istana kerajaan, masjid, hingga lembaga pendidikan di negara tujuan.     

Bermula dari menara Masjid Ampel, kini telah banyak qori Indonesia yang terkenal ke seantero dunia. 

Enam belas qori senior yang kompeten di bidang seni baca Al-Qur’an di Indonesia (yang tercantum dalam buku: Perkembangan Seni Baca Al-Qur’an dan Qiraat Tujuh di Indonesia) adalah : 

1. KH M. Basori Alwi Murtadlo (Jawa Timur)
2. KH Abu Bakar (NTB) 
3. KH Azra’i (Medan) 
4. KH Abdul Aziz Muslim (Jawa Tengah) 
5. KH Damanhuri (Jawa Timur) 
6. KH Zakariya Nawawi (Lampung) 
7. KH Dlomroh Arzyadi (Sumatera Barat) 
8. Ustadz Abdul Muthalib (Banjarmasin) 
9. KH Said As-Sirri (Jakarta) 
10. KH Mukhtar Luthfi (Jakarta) 
11. Ustadz Abdul Halim (Palu) 
12. Ustadz Hambali Lathif (Jakarta) 
13. Ustadz Drs H Yusuf Aziz (Bengkulu) 
14. Ustadz Kasyful Anwar (Jambi) 
15. Ustadz Fauzi (Pontianak) 
16. Ustadz HA Syahid (Jawa Barat)   

Selain nama-nama tersebut, masih banyak sebenarnya qori Indonesia yang mumpuni di bidang qira’ah bil-ghina. Diantaranya adalah qori asal Surabaya yang pernah berguru kepada KHM Basori Alwi, yaitu Ustadz Ahmad Fuad dan Ustadz Drs Abdul Hamid, yang keduanya pernah menjuarai MTQ tingkat nasional dan tingkat ASEAN. 

Saat ini, KHM Basori Alwi Murtadlo adalah satu-satunya pendiri Jam'iyyatul Qurraa' Wal Huffadz, sekaligus pencetus Musabaqah Tilawatil Qur'an yang masih hidup. (*)