Jember – Eksan Institute memilih mengisi ruang sunyi Intelektualitas dalam memperingati Hari Santri Nasional (HSN). Jika biasanya HSN diperingati dengan pengibaran bendera dan kegiatan seremonial, Eksan Institute memperingatinya dengan bedah buku.

Buku berjudul ‘Muktamar Ramadhan; Muhibbah Spiritual Indonesia-Mekkah Moch. Eksan’ yang disusun Ubaidillah Dzanoroyin dan Abdul Hady JM mengulas refleksi Moch. Eksan ketika melakukan ibadah umrah selama 20 hari pada bulan Ramadhan lalu.

Menurut anggota Komisi E DPRD Jatim ini, intelektualitas merupakan ruang sunyi dan semakin sunyi karena mulai ditinggalkan oleh kalangan muda. “Intelektual adalah ruang sunyi yang jarang ditempati orang-orang. Mungkin karena menjadi penulis itu tidak menjanjikan properti dan Kesejahteraan,” katanya.

Padahal, lanjut Eksan, intelektualitas adalah pijakan paling kokoh untuk melangkah ke ruang publik yang lebih luas. “Intelektualitas yang ditunjukkan dengan kapasitas menulis gagasan adalah pijakan untuk berkarir ke dunia yang lebih luas,” tambahnya.

Ia mencontohkan beberapa sosok intelektualitas yang kemudian berhasil berkarir di dunia politik. “Ada Gus Dur yang mengawali karirnya sebagai penulis, juga Amien Rais. Termasuk saya yang sebelumnya berprofesi sebagai penulis,” ungkapnya.

Sementara itu Aida Luthfiyah yang tak lain adalah istri Eksan menceritakan bagaimana Eksan begitu tekun mengisi ruang intelektual dan istiqamah menulis diberbagai media massa, terutama pada masa-masa awal kehidupan rumah tangganya.

Hadir dalam bedah buku tersebut adalah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Liga Mahasiswa NasDem (LMN) Jember.